Jika Kehidupan Kedua Itu Ada, Tetaplah Jadi Ayahku

Daftar Isi
Jika Kehidupan Kedua Itu Ada, Tetaplah Jadi Ayahku

Aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan dalam keluarga yang hancur. Tidak ada seorang anak pun yang menginginkan hidupnya dimulai dengan kehilangan. Namun itulah kenyataan yang harus kuterima sejak bahkan sebelum aku melihat dunia.

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakakku yang paling besar perempuan, lalu kakak laki-lakiku, dan terakhir aku. Bahkan sebelum aku lahir, hidup kami sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh ibuku.

Saat usiaku masih berupa janin dua atau tiga bulan di dalam kandungan, ayah memilih pergi. Ia meninggalkan ibu, meninggalkan kakak-kakakku, dan meninggalkanku yang bahkan belum sempat melihat wajahnya. Ia pergi demi seorang janda yang telah memiliki tiga orang anak. Sampai hari ini aku tidak tahu bagaimana sebenarnya cerita itu terjadi. Aku tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang paling benar. Aku hanya tahu satu hal, keluargaku hancur setelah itu.

Semua yang sebelumnya kami miliki perlahan hilang. Usaha yang dibangun bersama ibu ikut terbawa. Harapan yang seharusnya menjadi bekal masa depan keluarga kami juga lenyap satu per satu. Bahkan bantuan rumah dan lahan yang seharusnya menjadi hak keluarga kami di Timpeh Setiung Lama, diberikan kepada istri mudanya yang sebenarnya usianya lebih tua daripada ibuku.

Aku lahir di tengah reruntuhan mimpi yang belum sempat selesai dibangun.

Karena keadaan yang semakin sulit, nenek membawaku ke Jakarta. Kami tinggal di rumah kakak ibu yang kupanggil Mami, di daerah Petamburan, Jakarta Pusat. Sementara itu, kakak laki-lakiku dan kakak perempuanku dibawa oleh etek ke Lahat, Sumatra Selatan.

Begitulah hidup kami dimulai.

Terpisah.

Berjauhan.

Seperti keluarga yang tercerai-berai oleh keadaan.

Aku tidak terlalu mengingat masa kecilku secara utuh. Yang kuingat hanyalah bahwa hidup selalu terasa pas-pasan. Tidak ada kemewahan. Tidak ada kenyamanan yang sering kulihat dimiliki anak-anak lain. Yang ada hanya usaha untuk bertahan dari hari ke hari.

Aku tumbuh dengan melihat ibu berjuang sendirian. Aku melihat bagaimana seorang perempuan harus memikul beban yang seharusnya dipikul oleh dua orang. Aku melihat bagaimana ia berusaha menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anaknya.

Dan semakin aku tumbuh dewasa, semakin aku menyadari betapa berat jalan yang telah dilaluinya.

Pernah ada masa ketika hidup terasa begitu sempit. Begitu sulit. Aku hampir dikirim ke panti asuhan. Sampai hari ini, ketika mengingat cerita itu, dadaku masih terasa sesak.

Bayangkan saja.

Seorang anak yang bahkan belum memahami arti kehidupan harus berada begitu dekat dengan kemungkinan kehilangan keluarganya sendiri.

Namun takdir berkata lain.

Nenek meninggal lebih dulu sebelum rencana itu terjadi.

Entah harus bersyukur atau bersedih ketika mengingat bagian hidup yang satu itu. Karena di satu sisi aku tidak jadi masuk panti asuhan. Tetapi di sisi lain, aku kehilangan sosok yang selama ini berusaha menjaga kami.

Setelah itu hidup terus berjalan.

Kadang terseok.

Kadang nyaris jatuh.

Kadang terasa tidak adil.

Aku sering bertanya dalam hati, kenapa hidupku harus seperti ini?

Kenapa anak-anak lain bisa pulang sekolah dan melihat ayah mereka menunggu di rumah, sementara aku tidak?

Kenapa anak-anak lain bisa meminta sesuatu kepada ayahnya, sementara aku bahkan tidak tahu harus menyimpan rindu ini kepada siapa?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mendapat jawaban.

Yang ada hanya waktu yang terus berjalan.

Aku akhirnya masuk SMA di kampung halaman. Di situlah aku mulai memahami bahwa Tuhan mungkin tidak memberiku kehidupan yang mudah, tetapi Dia mengirimkan orang-orang baik untuk membantuku bertahan.

Jika Kehidupan Kedua Itu Ada, Tetaplah Jadi Ayahku

Aku masih ingat guru ekonomi sekaligus wali kelasku saat kelas satu dan kelas tiga. Beliau bukan keluarga. Bukan kerabat. Bahkan tidak memiliki kewajiban apa pun terhadapku.

Namun beliau membantu biaya sekolahku.

Beliau memastikan aku tetap bisa belajar.

Beliau memastikan aku tidak berhenti di tengah jalan.

Lalu saat kelas dua, wali kelasku yang merupakan guru matematika juga membantu dengan cara yang hampir sama.

Sampai hari ini aku tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan mereka.

Mungkin mereka menganggap apa yang dilakukan adalah hal biasa.

Tetapi bagiku, itu bukan hal biasa.

Mereka membantu seorang anak yang nyaris kehilangan harapan.

Mereka membantu seorang anak yang sedang berusaha mempercayai bahwa masa depan masih ada.

Mereka membantu seorang anak yang sering merasa dunia terlalu kejam kepadanya.

Banyak orang berkata bahwa luka akan sembuh seiring waktu.

Aku tidak sepenuhnya setuju.

Ada luka yang memang tidak lagi berdarah, tetapi tetap ada.

Tetap terasa.

Tetap menjadi bagian dari diri kita.

Luka tentang ayah adalah salah satunya.

Aku tumbuh tanpa benar-benar mengenal sosoknya sebagai seorang ayah.

Aku tahu namanya.

Aku tahu wajahnya.

Aku tahu bahwa ia masih hidup.

Tetapi aku tidak pernah benar-benar merasakan apa yang disebut kasih sayang seorang ayah.

Aku melihatnya diberikan kepada orang lain.

Aku melihatnya dirasakan oleh adik-adik lain dari pihak ibu.

Aku melihatnya dimiliki oleh saudara-saudara sambungku.

Aku melihat bagaimana mereka bisa bercanda, bercerita, meminta nasihat, atau sekadar duduk bersama ayah mereka.

Dan setiap kali melihat itu, ada sesuatu dalam diriku yang diam-diam merasa iri.

Bukan iri karena harta.

Bukan iri karena materi.

Tetapi iri karena mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah kumiliki.

Seorang ayah.

Kadang aku bertanya-tanya, seperti apa rasanya dipeluk ayah ketika sedang sedih?

Seperti apa rasanya diajari sesuatu oleh ayah?

Seperti apa rasanya dibanggakan oleh ayah?

Seperti apa rasanya mendengar kalimat sederhana, “Ayah bangga sama kamu”?

Aku tidak tahu.

Karena aku tidak pernah benar-benar merasakannya.

Namun anehnya, di balik semua luka itu, aku tidak pernah bisa membenci ayah sepenuhnya.

Aku sudah mencoba.

Aku pernah marah.

Aku pernah kecewa.

Aku pernah merasa tidak adil.

Tetapi setiap kali mencoba membencinya, selalu ada bagian dalam diriku yang menolak.

Mungkin karena bagaimanapun juga, darahnya mengalir dalam tubuhku.

Mungkin karena bagaimanapun juga, dia tetap ayahku.

Dan mungkin karena jauh di dalam hati, aku masih menyimpan harapan yang tidak pernah benar-benar mati.

Harapan bahwa suatu hari aku bisa merasakan apa yang selama ini hilang.

Banyak orang mungkin mengira aku akan berkata bahwa jika kehidupan kedua itu ada, aku ingin memiliki ayah yang berbeda.

Ayah yang lebih baik.

Ayah yang tidak pergi.

Ayah yang memilih tetap tinggal.

Tetapi anehnya, bukan itu yang kuinginkan.

Jika kehidupan kedua itu benar-benar ada, aku tetap ingin ayah menjadi ayahku.

Ya.

Tetap dia.

Bukan orang lain.

Aku hanya ingin ceritanya berbeda.

Aku ingin melihatnya tetap tinggal saat ibu mengandungku.

Aku ingin melihatnya menggandeng tangan ibu melewati masa-masa sulit.

Aku ingin melihat kami tumbuh sebagai keluarga yang utuh.

Aku ingin merasakan bagaimana rasanya berangkat sekolah dengan ayah yang mengantar.

Aku ingin merasakan bagaimana rasanya pulang dan melihat ayah menunggu di rumah.

Aku ingin mendengar nasihatnya ketika aku gagal.

Aku ingin mendengar tawanya ketika aku berhasil.

Aku ingin memiliki kenangan bersama ayah, bukan hanya cerita tentang kepergiannya.

Karena sesungguhnya, di balik semua kemarahan yang pernah ada, yang tersisa hanyalah kerinduan.

Kerinduan seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengenal ayahnya secara utuh.

Dan sampai hari ini, meskipun hidup telah mengajarkanku banyak hal tentang kehilangan, aku masih percaya bahwa cinta seorang anak kepada ayahnya adalah sesuatu yang sulit dijelaskan oleh logika.

Sebab meski dunia pernah menghancurkan keluargaku, meski masa kecilku penuh kekurangan, meski aku tumbuh dengan luka yang tidak pernah benar-benar hilang, ada satu kalimat yang selalu tersimpan di sudut hati paling dalam.

Jika kehidupan kedua itu ada, tetaplah jadi ayahku.

Tetapi kali ini, jangan pergi.

Tinggallah lebih lama.

Agar aku bisa merasakan apa yang selama ini hanya bisa kulihat dari kehidupan orang lain.

Agar aku bisa memanggilmu “Ayah” tanpa menyimpan kehilangan di dalamnya.

Dan agar aku akhirnya tahu, bagaimana rasanya dicintai oleh seorang ayah. [Ditulis sepenuhnya oleh akal imitasi, aku hanya menyertakan command dan promt]
Afriant Ishaq
Afriant Ishaq A male blogger who is afraid of heights and always faints when sees blood. But once active as an HIV AIDS counselor, and an announcer on a radio.

Posting Komentar