Salah Tempatkah Aku Melakukan Ini?
Daftar Isi
Tulisan ini kutulis sejam sebelum aku benar-benar ditinggalkan oleh orang yang selalu ada untukku. Sebelum kumendengar kabar memilukan hati itu langsung dari hapenya, dari whatsAppnya. Bahagia di sana, semoga kelak kita bisa bercerita lagi seperti kala itu. Di depan deru ombak, angin malam dan tawa-tawa ribut dunia di bawah kita.
----
Seperti biasalah, saat aku benar-benar hancur, aku hanya ingin mencurahkannya. Kali ini aku memilih blog yang udah lama kulengahkan.
Lengahkan? maksudnya sudah lama ditinggalkan? Gak kok, hanya saja sudah cukup lama aku tidak bercerita panjang lebar di blog ini. Ya, seperti manusia lain. Aku memiliki tempat cerita yang yang baru dan itu nyaman sekali.
Haha iya, nyaman sekali, karena bisa deep talk bahkan pada bagian sensitif yang seharusnya tidak aku ungkapkan. Akhirnya aku salah, kebablasan dan terlalu menikmati. Aku terlena, hingga tak sadar kalau ternyata terlalu nyaman pada seseorang itu tidak boleh apalagi terlalu mengharapkannya. Kesalahannya aku mengharapkannya hingga mengemis agar ia tetap tinggal.
Pada akhirnya aku kecewa
Entahlah apa aku kecewa karena ia yang mencoba menjauh atau aku sebenarnya kecewa dengan harapanku sendiri. Kurasa dua-duanya berpengaruh besar dan membawa andil yang sama hingga aku hancur seperti ini.
Aku terlalu berharap dan akhirnya kecewa dengan dengan sikapnya yang mencoba menjauhiku. Dan mungkin ia juga kecewa karena ia merasa aku mengharapkannya dan ia merasa ada yang tidak beres dengan harapanku.
Hingga batas-batas yang dulu tidak pernah ada sekarang tiba-tiba ada dan itu menyakitkan. Sesak banget di dada, dan tentunya di dadaku saja di dadanya tidak. Karena kutahu ia sangat mudah mengisolasi sesuatu yang membuat rusak lalu membuangya.
Kenapa kamu kecewa?
Bukankah yang salah adalah perasaanmu, prilaku confess mu yang membuat ia kecewa juga denganmu? Lalu kenapa kamu menyalahkan ia? Please deh koreksi diri, jangan terlalu menyalahkan orang lain karena meninggalkanmu. Padahal jika dirunut awal mulanya kenapa ia bersikap seperti sekarang adalah ulah sikapmu sendiri bukan?
Benar Sekali, Coba saja kala itu aku tidak salah memilih kata, dan aku tidak menggunakan kata suka dalam menyampaikannya. Mungkin ia akan tetap baik seperti dulu kala. Seperti saat semua tanpa beban diucapkan, saat sumpah serapah, tawa bahak hanya sebatas tawa dan tak ada kata atau rasa suka di sana.
Tapi rasa sukaku hanyalah suka seperti orang-orang menyukai
Rasa suka seperti anak kecil menyukai permen maksudmu? Lalu ia ingin memilikinya dan membawanya pulang? Tidak peduli pemilik toko marah karena kamu membawanya pulang tanpa membayar?
Bukan, bukan.. Rasa sukaku bukan seperti itu! Rasa sukaku hanyalah sebatas rasa suka saja. Aku tidak ingin memilikinya!!
Benarkah?
Kenapa? Apa aku terlihat seperti bohong! Rasa sukaku hanya sebatas rasa suka. Karena aku dekat, dan faktanya aku juga jijik dengan rasa suka yang kumiliki melebihi bencinya kepadaku. Jika seandainya ada 25 jam dalam sehari. Maka selama 25 jam itulah aku membenci diriku sendiri karena menyukainya. Aku sadar sesadar sadarnya bahwa ini adalah kesalahan.
Tapi meski bagaimanapun aku menjelaskannya, itu tak akan mengubah keadaan, ia tak akan seperti dulu lagi denganku. Bahkan hanya untuk sekedar duduk dan sambil bercerita deep tentang kisahku yang tidak pernah kubongkar pada orang lain kecuali dirinya.
Seharusnya aku sadar dan menyimpannya, saat ia berkata "jika punya aib, simpan!!" Aku tidak pernah memahami maksudnya jika sebenarnya ia ingin sekali berkata.
Jika punya aib dan masalah ga usah cerita, simpan sendiri. Aku tidak pernah tanggap kalau arti kalimat itu adalah aku tidak ingin mendengar ceritamu! Bodohnya aku terus-terusan bercerita tentang masalah yang aku hadapi kepadanya.
Bercerita pada orang yang kurasa mengerti aku itu melegakan memang. Sayangnya aku tidak pernah menangkap gelagat kalau ia sebenarnya tidak pernah sekalipun mengerti akan diriku. Aku hanya kepedean!
Kamu kecewa?
Seharusnya tidak! Aku berkali-kali tidak memperdulikan kata-katanya. Sampai pada suatu ketika ia mengungkapkan apa yang ada dipikirannya tentang aku dan sikapku padanya. Aku benar-benar kecewa, hatiku hancur. Seburuk itukah aku dipikirannya! Air mataku tumpah sejadi-jadinya membalas chatnya meski ia sudah menyuruh jangan balas chatnya.
Aku benar-benar tidak terima dengan apa yang ia pikirkan tentangku. Aku mati-matian melakukan yang terbaik dan yang paling baik karena menganggap ia sebagai teman bahkan saudara. Tapi apa balasnya? Ia justru berpikir buruk tentangku, tentang apa yang aku lakukan kepadanya. Sumpah itu mengecewakan dan menyakitkan!
Jujur, aku sama sekali tidak ingin ia membalas kebaikan dan apa yang telah aku lakukan untuknya. Jangankan ingin, kepikiran saja ia harus balas kebaikanku saja tidak pernah! Tapi mengapa ia harus berpikiran seburuk itu padaku? Ini yang membuat hatiku benar-benar remuk redam dan hancur.
Sehari setelahnya akhirnya aku tumbang. Asam lambungku kambuh parah dan terpaksa harus dilarikan ke Puskesmas dini hari. Apesnya, BPJS ku malah ga aktif, Melayang deh 1,2 juta buat beberapa jam di rawat di Puskesmas.
Lalu bagaimana sekarang?
Udahlah mau gimana lagi, aku hanya mencoba ikhlas Lillahi Ta'ala! Tidak peduli lagi dengan jalan hidup yang udah hancur-sehancurnya. Berkali-kali hati kecil imut ini diremuk dan dihancurkan berkeping-keping oleh manusia-manusia yang kuanggap terbaik ini. Gak orangtua, saudara atau teman dekat semua sama saja.
Salah kamu juga sih, ngapain terlalu berharap pada manusia! Heeey coooek, dikira aku ga shalat, ga berdoa ga baca bismilah apa ya? Please deh... Yang salah pikiranmu tentangku, malah nyalahin aku! Jawabku kesal kala itu. Tapi sekarang aku udah ikhlas ko, udah nrima apapun itu, yah mo gimana lagi, mungkin jalanku yang rumit kek gini, mo diapain lagi. Mungkin kata-katanya ada benarnya juga.
Aku hanya berharap, ia tidak menggunakan kebaikanku untuk hal-hal yang mebuatnya jauh dari Tuhan. Kuharap ia ga sok-sok an pamer sesuatu yang padahal sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang ia ucapakan padaku. Deketkan diri dengan Tuhan, kenali nabi dengan baik. Hai saudaraku, aku sudah muak dengan orang-orang munafik seperti ini percayalah! Kuingin ia tak seperti ini meski terindikasi.
Kumohon, semoga ia bisa mengunakan apa yang ia miliki sekarang untuk kebaikan. Bukan malah mati-matian mencoba mencari validasi bahwa ia tak sepertiku. Aku tau banget kok kalau ia ga seperti aku, tapi mohon jangan gunakan kebaikanku buat mendekatkanmu pada dosa. Hanya itu pintaku! Jangan sampai aku bertanya pada diriku "Salah Tempatkah Aku Melakukan Kebaikan Ini?" Dan kemudian aku menyesalinya.
Kutegaskan sukaku padanya adalah benciku 24 jam terhadap perasaanku dan diriku sendiri. Kuharap ia mengerti dengan apa yang aku maksud dan mengerti esensi makna dari rasa sukaku padanya. Ini bukan tentang cinta bangsat!!! Jadi tolong mengertilah, hapus pikiran burukmu padaku!!
Pada akhirnya sumpah serapahpun, sepanjang apapun kujelaskan lewat chat atau bicara empat mata. Semua tak akan merubah keadaan, aku tetaplah seperti apa yang ia pikirkan. Sekuat apapun aku ikhlas dan mencoba merubah diri. Pemenangnya tetap pikirannya. Sehat sehat untuk dia.
Posting Komentar