Skip to main content
Uncchu

follow us

Ayo Pahami Psychological First Aid, P3K Untuk Trauma Psikologis

Ayo Pahami Psychological First Aid, P3K Untuk Trauma Psikologis - Bicara soal psikologi dan tindakannya, saya adalah orang yang termasuk ke dalam sekelompok orang yang sangat menyukai pembahasan berbau psikologi. Sebut saja beberapa pengetahuan basis psikologi hingga bahasan psikologi rumit nan menantang adrenalin untuk ditaklukkan. 

Saya sangat tertarik dengan tindakan-tindakan psikologi awal seperti Psychological First Aid atau lebih dikenal dengan pertolongan pertama pada psikologis. Saya semakin tertarik setelah membaca postingan Mba Nurhilmia pemilik blog fadlimia.com tentang PFA. 

Saking tertariknya, saya mencoba mencari sumber referensi valid tentang bahasan ini. Saya coba congkel di jeroan google dengan mengetik Psychological First Aid dan tidak lupa saya juga mencari padanannya dalam bahasa Indonesia yaitu pertolongan pertama pada psikologis. 

Lalu apa itu pengertian psychological first aid? 

Berdasarkan hasil penelusuran yang saya dapat dari beberapa blog yang muncul di halaman pertama tentang Psychological First Aid. Mereka rata-rata menyebutkan defenisi dari Psychological First Aid adalah tindakan suportif dan manusiawi, berupa dukungan sosial, emosional, atau praktis yang diberikan terhadap seseorang yang mengalami peristiwa krisis.

Peristiwa kritis yang dialami menyebabkan seseorang mengalami penderitaan dan trauma psikologis dan membutuhkan pertolongan karenanya. Peristiwa krisis dan trauma yang terjadi bisa saja seperti, kecelakaan, bencana alam, atau peristiwa traumatis lainnya. 

Keunikan dari PFA atau psychological first aid adalah saat penerapannya pada survivor. Pengaplikasiannya ke korban dilakukan dengan tetap memperhatikan sisi terbaik yang ada di dalam diri korban. Seperti aspek budaya dan kemampuan dalam diri korban. 

Sedangkan jika saya menyarikan dari tulisan Mba Nurhilmia, PFA adalah sebuah tindakan P3K atau pertolongan pertama bagi mereka yang mengalami rasa cemas atau kecemasan berlebihan. Bisa saja PFA ini diterapkan pada mereka yang sedang dirundung permasalahan dan mengakibatkan keputus asa an berlebih, serta merasa paling sial di dunia. 

Hal penting yang harus diperhatikan saat psychological first aid dilakukan

Hal paling mendasar serta yang sangat penting yang harus dilakukan oleh orang yang melakukan tindakan PFA pada korban adalah :

  • Memperhatikan kebutuhan dan apa yang sedang dipikirkan korban.
  • Menjadi pendengar yang baik, namun tidak memaksa korban untuk bercerita. Terlebih lagi memintanya untuk mengingat kembali dan menganalisa peristiwa traumatis yang sudah terjadi secara detil.
  • Menenangkan, menghibur serta membuat korban merasa aman dan nyaman.
  • Membantu korban untuk terhubung dengan informasi, layanan dan dukungan sosial di luar.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang hendak atau berniat melakukan psychological first aid adalah tidak semua orang yang mengalami peristiwa kritis dan traumatis membutuhkan psychological first aid.

Lalu pentingkah memberikan psychological first aid terhadap korban? 

Penting, dan sangat penting. Karena sebagian dari orang hanya berfokus pada penanganan luka fisik secara medis. Namun sebenarnya ada luka emosional yang juga sama sakitnya dengan luka fisik. Oleh sebab itulah psychological first aid sangat penting untuk dilakukan. 

Menurut sebuah penelitian, korban terdampak bencana misalnya, sangat berpotensi tinggi mengalami kecemasan, depresi, dan trauma. Oleh karena itu, melakukan pertolongan pertama pada psikologis (Psychological First Aid) korban merupakan sebuah usaha yang perlu diperhatikan untuk menghadapi dampak buruk dari trauma bencana alam ke depannya.

Dalam artian psychological first aid hadir sebagai sebuah tindakan untuk menjaga dan mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial korban trauma. 

Ada beberapa alasan yang menjelaskan pentingnya melakukan psychological first aid pada korban trauma, yaitu :

1. Mengurangi Risiko Gangguan Mental

Kecemasan dan trauma yang terjadi akibat sebuah peristiwa kritis sangat berpotensi tinggi dalam merusak kesehatan mental korban. 

Jadi diperlukan psychological first aid untuk mencegah kerusakan lebih buruk pada mental yang diakibatkan oleh kejadian traumatis ini. 

2. Meningkatkan Self Healing

PFA dapat membantu seseorang untuk dapat menyembuhkan dirinya sendiri dari dalam. Self healing ini dilakukan dengan memberi dorongan kepada korban untuk bisa memahami keadaan yang telah terjadi. 

Setelah memahami keadaan yang terjadi, korban yang mengalami trauma juga dibantu untuk menerima peristiwa yang telah terjadi. Penerimaan inilah yang akan berefek positif dan menjadi self healing. 

3. Membangun Harapan

Harapan adalah perasaan yang sangat penting bagi para korban trauma. Sebut saja ini adalah salah satu dan satu-satunya tongkat yang membantunya untuk bangkit. Dengan tetap memiliki harapan untuk melanjutkan kehidupan, apapun keadaannya. 

Di sinilah pentingnya PFA dalam membangun harapan bagi para korban.  Memberikan pelukan yang hangat untuk setiap tangisan yang mereka curahkan. Menemani para korban agar sembuh dari luka-luka yang menyakitkan atas peristiwa traumatis yang dilaluinya.

Lima komponen dasar psychological first aid

Dalam memberikan psychological first aid, ada lima komponen dasar yang harus diperhatikan pemberi bantuan atau provider. Komponen yang harus dipenuhi ini diantaranya sebagai berikut :

Keamanan dan Keselamatan

Memastikan survivor terbebas dan berkurang dari ancaman atau kekhawatiran atas peristiwa yang terjadi. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan dukungan dan kenyamanan secara fisik dan emosional. 

Kemudian membantu dirinya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan informasi untuk memperolehnya kelak, seperti makanan, minuman dan tempat tinggal. Apabila survivor mengalami luka fisik, segera mencari bantuan dari pihak medis.

Ketenangan

Menenangkan dan membantu survivor untuk kembali stabil dari tenggelamnya perasaan sedih dan derita atas peristiwa traumatis yang terjadi. Untuk menenangkan survivor dapat dilakukan dengan menciptakan suasana yang tenang dan terhindar dari tanda-tanda bahaya. 

Menjadi pendengar yang baik bagi survivor yang ingin berbagi cerita dan emosi yang dirasakan tanpa pemaksaan. Mengingatkan survivor bahwa tidak ada yang benar atau salah dalam merasakan emosinya sekarang. 

Membantu survivor untuk memahami peristiwa yang terjadi serta memberikan informasi untuk menghadapi tekanan yang dirasakan. Terakhir, menyampaikan pada survivor bahwa ada bantuan yang akan datang sehingga jangan terjebak dalam rasa takut dan cemas.

Keterhubungan

Membantu dan memastikan survivor untuk tetap terhubung dengan relasi dekat atau pihak luar lainnya. Hai ini dapat dilakukan dengan menghubungi relasi terdekat, menjaga sebuah keluarga atau siapapun  yang merupakan relasi terdekat untuk tetap besama. 

Menghubungkan korban dengan layanan bantuan yang tersedia. Serta, tetap memerhatikan budaya yang berlaku terkait umur, ras dan agama.

Efikasi Diri

Efikasi diri adalah keyakinan seseorang bahwa akan ada hasil positif dalam tindakan yang dilakukan serta merasa mampu untuk menolong dirinya sendiri. 

Dalam psychological first aid, menguatkan efikasi diri survivor dilakukan dengan melibatkan dirinya secara langsung untuk mengetahui dan menemukan kebutuhannya sendiri. Kemudian mendampingi survivor dalam mengambil keputusan, memprioritaskan permasalahan dan mencari cara penyelesaiannya.

Harapan

Sampaikan pada survivor bahwa ada harapan untuk kembali pulih dan ada orang-orang yang ingin membantu. Selain itu, meyakinkan mereka bahwa apa yang dirasakan sekarang adalah hal yang normal. Dengan demikian, survivor tidak terjebak dalam putus asa dan masih melihat kemungkinan untuk terus bergerak.

Sedangkan menurut WHO, pemberian pertolongan pertama dalam psikologis ada tiga prinsip dasar yang menjadi pedoman, yaitu look (lihat), listen (dengar), dan link (terhubung).

Kesimpulan

Setiap peristiwa traumatis yang dialami seseorang akan membutuhkan tindakan penanganan yang tepat. Salah satunya dengan pemberian psychological first aid.

Namun tidak menutup kemungkinan akan ada peristiwa traumatis dan psikologis yang tidak membutuhkan psychological first aid seperti yang dijabarkan di atas. Seorang provider atau pemberi bantuan sebaiknya mampu melacak apakah korban atau survivor wajib mendapatkannya atau tidak. Bagaimana menurut kalian? 

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar