Skip to main content
Uncchu

follow us

Cinta Tanpa Tapi 2 - Sebuah Cerita Bersambung atau Cerbung Karya Uki Lestari

Cinta Tanpa Tapi 2 - Sebuah Cerita Bersambung atau Cerbung Karya Uki Lestari

Deg! Jantung Salma terasa mau copot, begitu melihat narasumber yang berdiri di depannya. Dekat. Sangat dekat. "Itu bukannya laki-laki yang aku tabrak tadi siang?" Batinnya sambil menunduk seperti mencari-cari yang tidak hilang ke arah kakinya.

Cerita Sebelumnya : Salma menabrak seorang pria dengan wajah menawan, Wajah menawannya selalu terbayang oleh Salma. Bertengger dan bertengger terus di pelupuk matanya. Nah lalu apa kisah selanjutnya? Simak kelanjutannya di Cinta Tanpa Tapi 2.

Setelah merasa rapi dengan hijab yang terurai, Salma memasuki aula dengan hati yang mantap. Ia melihat ruangan tersebut baru dihadiri beberapa peserta. "Ternyata kepagian nih" batinnya. Didukung keadaan masih sepi, Salma bisa sesuka hati memilih tempat duduk yang Ia inginkan.

Tidak perlu waktu lama, sesuai dengan kebiasaannya di waktu kuliah dulu, Ia memilih duduk paling depan bagian kanan, tepat di depan meja narasumber yang telah disediakan.

Semua tidak lain bertujuan agar materi yang disampaikan narasumber nantinya masuk ke dalam ingatannya. Tanpa hambatan tentunya, hambatan melihat, hambatan mendengar. Semua plong, dekat dengan narasumber.

Menit demi menit berlalu, peserta mulai berdatangan dan memenuhi kursi yang disediakan. Salma yang sedari tadi asyik mengutak-atik handphone nya tidak merasa menunggu lama. Semuanya telah lengkap hadir di ruangan tersebut, termasuk narasumber.

Acara pun dimulai. Salma mendengar arahan dari pembawa acara, selanjutnya penyampaian materi oleh narasumber. Tepuk riuh gemuruh pun menggelegar seisi ruangan. Menyambut narasumber yang beranjak ke depan.

Deg! Jantung Salma terasa mau copot, begitu melihat narasumber yang berdiri di depannya. Dekat. Sangat dekat. "Itu bukannya laki-laki yang aku tabrak tadi siang?" Batinnya sambil menunduk seperti mencari-cari yang tidak hilang ke arah kakinya.

Sambil mengatur irama jantungnya yang ketar-ketir tak menentu, Salma mencoba santai. "Mudah-mudahan dia tidak ingat kejadian siang tadi" harapnya dalam hati. Lama kelamaan, Salma pun bisa mengatur getaran jantungnya yang mulai normal.

Ia menyimak dan mendengar penuh khidmat penyampaian materi yang diberikan laki-laki tampan di depannya itu. Meski terkadang imajinasinya menari-nari di atas kepalanya. Sekuat tenaga Ia halau dengan membabi buta. Agar tetap fokus pada penyampaian narasumber tersebut.

Berkat usaha keras dan tekad yang kuat, Ia berhasil menyimak dengan serius. Buktinya Ia mampu menuangkan tentang apa yang dijelaskan narasumber tersebut dengan corat-coret di notebook yang dibagikan pihak panitia di awal acara.

Untuk hari ini, penyampaian materi berakhir dengan pemberian tugas. Narasumber tersebut memberikan sebuah tugas yang harus dikirim ke WhatsAppnya, bukan ke emailnya. Narasumber yang berwajah tampan itu pun membagikan nomor handphonenya dan diperlihatkan melalui layar putih tepat disamping depan Salma.

Tidak berbeda dengan peserta lain, Ia pun menyimpan nomor HP narasumber tersebut. Save, selesai. Salma pun kembali ke kamar. Badannya terlalu letih. Tidak sabar sampai ke kamar untuk rebahan. Nikmat!

Tak butuh waktu lama, tugas pun selesai dibuatnya. Ia pun mengirim tugasnya ke WA narasumber. Sent, Ceklis dua terlihat di layar HP-nya. Salma pun meletakkan HP-nya di meja mungil di sebelah tempat tidur.

Tak lama kemudian, HP-nya bergetar. Ada pesan masuk. Pesan dari narasumber. Laki-laki tampan itu membalas kiriman tugas Salma dengan sekuntum mawar merah. Deg! Salma jantungan lagi. Tapi tidak lama. Cepat-cepat Ia sadar, "Ah, biasa... Mungkin ini gayanya si narasumber" batinnya.  Meluruskan imajinasinya yang mulai menari kesana-kemari.

Hari kedua pun datang. Semangat pagi membawa Salma melangkah yakin dan optimis ke ruangan yang sama dengan kemarin. Yaitu di aula.

Kali ini Salma didahului oleh narasumber yang sudah duduk manis sambil membuka laptop miliknya. Nama narasumber itu, baru diketahui Salma malam tadi. Namanya sama menawan dengan wajahnya. Reyhan.

Salma pun mulai memperkecil langkahnya ketika mengetahui Reyhan telah duduk manis di depan. Ia ragu, apakah akan duduk di tempat kemarin yang otomatis jarak antara Ia dengan Reyhan begitu dekat. Atau memilih tempat duduk lain yang agak jauh.

Sambil berpikir keras, tiba-tiba Reyhan menyapa.
"Hai... Kenapa bengong? Silakan duduk!" Sapa Reyhan sambil mengarahkan tangannya ke kursi yang ditempati Salma kemarin.

Salma pun tak tahu mau menjawab apa. Menolak pun sepertinya bukan jawaban yang tepat saat itu.

"Ya, Pak" balas Salma singkat.

Perlahan namun pasti, Ia mendekat dan duduk. Diam. Tak bergerak. Membuat Reyhan yang sedari tadi memerhatikannya senyum kecil dan pura-pura tidak melihatnya.

Reyhan pun mendekat, berjalan mendekati bangku yang diduduki Salma.

"Kamu bukannya yang di cafe kemarin ya?" Tanya Reyhan dengan senyum menawannya.

Bagai petir di siang bolong, Salma terkejut. "Ternyata Ia ingat," gumamnya dalam hati.

Salma pun melirik Reyhan yang sedari tadi berusaha mengajaknya berbicara dan menjawab pelan.

" Oh, iya Pak! He he. Maaf sekali lagi ya Pak soal kejadian kemarin!" Jawab Salma berbasa basi.

Reyhan pun menimpali dengan tetap penuh pesona

"Ah, sudah... Lupakan saja! Toh gak sakit kok. Cuma lain kali jalannya jangan nunduk lagi yaaa...".

Salma hanya membalas dengan senyum termanis sebisanya. Entah kentara itu senyum dibuat-buat, Salma tak peduli. "Oh, Tuhan.... Cepatlah waktu ini berlalu!" Harap Salma dalam hati.

Bersambung....
Note : Cinta tanpa tapi adalah sebuah cerbung atau cerita bersambung karya perempuan keibuan yang biasa disapa Uki ini. Seorang penulis produktif sekaligus guru di sebuah sekolah kecil di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Cerita yang unik untuk dinikmati dan sayang untuk dilewatkan. Tunggu kelanjutannya di uncchu.com

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar