Skip to main content
Uncchu.com

follow us

Siswa Pesantren Terkena HIV, Siapa yang Harus bertanggung Jawab?

Siswa Pesantren Terkena HIV, Siapa yang Harus bertanggung Jawab? - HIV adalah penyakit mematikan yang sampai saat ini secara medis masih belum memiliki obat. Obat-obatan yang diberikan untuk penderita HIV saat ini adalah obat yang bekerja menekan perkembangan virus bukan membunuh virus. 

Saya menulis artikel dengan judul Siswa Pesantren Terkena HIV, Siapa yang Harus bertanggung Jawab? ini di inspirasi oleh tulisan yang di posting oleh seorang tenaga kesehatan dengan nama Akun Facebook Armen Ahmad. Dilihat dari akun beliau, dapat diketahui bahwa beliau adalah seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Siti Rahmah Padang, Semen Padang Hospital dan RSU M. Djamil Padang.

Data yang Saya tulis adalah data yang Saya dapatkan dari akun beliau dengan nama akun facebook Armen Ahmad. Saya pribadi tidak mengenal secara langsung maupun tidak langsung beliau. Namun dari teman yang sama Saya cukup yakin kalau beliau Armen Ahmad adalah orang yang benar-benar bekerja di bagian kesehatan khusus menangani HIV.

Untuk kalimat terakhir dan data terakhir Saya meyakininya didukung dari beberapa foto yang beliau posting di facebook. Beliau memang terbiasa dan memiliki pekerjaan khusus menangani HIV. Data selanjutnya yang menurut Saya lebih valid adalah dari situs Fakultas Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam Universitas Andalas. Silahkan liat link nya di bawah ini.
http://interne.fk.unand.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=180:dr-h-armen-ahmad-sppd-kpti-finasim&catid=109:penyakit-tropik&Itemid=349
Nah pertanyaannya adalah apa hubungan status beliau Bapak Armen Ahmad dengan judul? Sekali lagi tulisan ini Saya tulis terinspirasi oleh tulisan yang beliau posting di Akun facebook dengan nama akun Armen Ahmad.

Postingan beliau yang bertanggal 11 November 2019 kurang lebih diposting sekitar jam 10 pagi. Postingan beliau Armen Ahmad berjudul Siswa pesantren Terkena HIV. Sempat menjadi viral dan beberapa kali wira wiri diberanda.

Usut punya usut Saya sedikit penasaran dengan status facebook yang dibuat bapak Armen Ahmad ini. Beberapa saat setelah Saya menemukan postingan dengan judul Siswa pesantren Terkena HIV. Saya langsung bertandang ke akun dengan nama Armen Ahmad. Tujuan Saya cuma satu, yaitu menjawab rasa penasaran untuk mempertimbangkan benar atau tidak postingan tersebut.

Benar saja Saya menemukan postingan Armen Ahmad dengan judul Siswa Pesantren Terkena HIV. Untuk lebih jelasnya berikut Saya posting ulang status Bapak Armen Ahmad dengan judul Siswa Pesantren Terkena HIV. Tulisan Asli dari beliau sebenarnya sangat berantakan. Namun di sini sedikit Saya benarkan secara EYD bukan secara isi dan pesan.

Siswa Pesantren Terkena HIV
Peristiwa ini terungkap  ketika diagnosa HIV stadium 3 ditegakkan pada anak ini. Empat belas tahun yang lalu  sebutlah Tn.Budi (nama sanaran), diantar oleh orang tuanya ke sebuah pesantren untuk mondok selama 7 tahun. 
Di kampung Dia dilepas dengan tangisan dalam acara selamatan oleh keluarga besar dengan harapan kelak menjadi ustadz besar, bisa jadi alumni timur tengah. Diapun melangkah dengan gagah perkasa, penuh haru dan bangga. 
Setelah diterima di Pesantren (Sebuah lembaga yang amat bergengsi bagi Muslim, yang kelak akan  mengantarkan Kita dan keluarga ke Surga), di Pesantren ini dia mendapatkan sebuah pondok mungil yang ditempati sendiri. 
Di antara  ratusan pondok kecil lainnya yang ditempati santri lainnya. bercampur haru,bangga karena dia akan menjadi calon ulama di antara ribuan santri lainnya. Setelah masuk pondoknya keluarga yang mengantarpun pulang. 
Sedih rasanya melepas si Sulung yang harus mandi cuci dan masak sendiri dan akan mulai menghapal kitab kuning. Tapi apa mau dikata demi masa depan sianak dengan doa dan air mata si Sulung pun ditinggal di Pesantren tersebut. 
Dalam hati orang tua tersebut kesedihanku saat ini belum seberapa dibanding Ibrahim meninggalkan Ismail kecil dan Siti Hajar ditengah Padang Pasir tanpa Manusia Makkah Zaman dahulu. Karena kemiskinan orang tua ini mungkin bisa berkunjung 6 bulan sekali.  
Meskipun Pesantren membolehkan kunjungan keluarga sebulan sekali. Minggu pertama anak umur 14 tahun ini masih hanyut dengan kesedihan dan kegalauan, sedih ditinggal orang tua dan keluarga, galau karena lingkungan baru dan guru baru. Pelajaran baru, hidup mandiri dan sebagainya.  
Minggu ke 2 malapetakapun mulai terjadi teman kakak kelas mulai bertandang ke Pondoknya senioritas berkaku di sini, Seperti Proses magang kalau lagi ambil Spesialis. Senior mulai menyampaijan aturan main di Pesantren. 
Anak yang masih lugu inipun ngikut saja, salah satu aturan kata seniornya, mengulum burung senior dan lain lain, karena takut diapun ikut saja. Hampir setiap hari kejadian mengisap burung ini terjadi. Diwaktu lain muncul pula kelompok yang menggosokkan burung ke Pelepasannya ini juga simultan.  
Sampai tamat ratusan orang sudah dia layani. Ahirnya penderitaan ini berahir dengan tamat dari Pesantren ini. Setamat Pesantren Diapun melanjutkan study di Perguruan tinggi Agama terkenal di Kota Padang. Karena tuntutan lingkungan orang tua pun terpaksa nembelikan Iped meskipun dengan mengurangi belanja adik adiknya. 
Kemiskinan yang dialami orang tua terasa ringan dengan keberhasilan ini. Dengan Ipad baru ini dia mulai berselancar di dunia maya mencoba menelisik pengalamannya di Pesantren. Diapun ketemu kelompok Gay. Mulailah pertemanan ahirnya terjadi pertemuan di tempat kost.  
Selanjutnya  terjadilah hubungan Sex, kadang dia jadi laki laki kadang jadi Perempun. Hal ini terjadi selama kuliah di kampus tersebut. Puluhan orang telah jadi Pasangannya, 2 bulan sebelum Diagnosa HIV stadium 3 di tegakkan dia masih melakukan hubungan sex dengan temannya. 
Sebagai Konselor dan dokter yang mengobati HIV, informasi tentang penyakitnya secara detail Saya sampaikan pada keluarga inti. Melihat tangisan orang tua, keluarga dan anak ini. Air mata Saya  keluar walaupun merek tak melihat. Dalam hati  Saya ikut berdosa, coba anak ini ketemu Saya 14 tahun yang lalu waktu Saya memulai menggeluti HIV AIDS, kejadiannya mungkin  berbeda. 
Apa mau dikata nasi sudah jadi bubur, Penyesalan selalu datang terlambat. Mari Kita ambil pelajaran dari kisah nyata ini. Berbenah di semua lini dan selalu berdo'a semoga keluarga Kita terlindung dari peristiwa ini. Aamiin 
Limau Manis,11 November 2019
Dalam Dalam Rangka Hari HIV AIDS 1 Desember 2019
Armen Ahmad
Nah Setelah membaca cerita kisah nyata yang ditulis oleh Armen Ahmad dan di posting di facebooknya tanggal 11 November 2019. Saya pribadi dapat menyimpulkan bahwa kisah ini memang nyata.

Namun dari hemat Saya, tulisan tersebut memiliki dua kemungkinan. Tulisan itu adalah hasil copy paste. Kenapa Saya katakan copy paste? Dari tulisan dan paragraf serta tanda baca maupun spasi yang berantakan.

Berdasarkan pengalaman Saya sebagai content writer dan penulis adalah ketika melakukan kopi paste dari satu tempat seperti blog atau media lain di internet. Maka ektensinya tidak beraturan alias berantakan. Ini terjadi karena beberapa tool atau browser memang tidak mendukung copy paste secara langsung.

Kemungkinan kedua menurut hemat Saya adalah Status itu memang ditulis oleh seorang Dokter yang bernama Armen Ahmad. Menurut hemat Saya kenapa berantakan karena beliau adalah orang kesehatan, bukan orang sastra atau orang yang memiliki skill mumpuni di bidang kepenulisan. Ditambah dari postur dan perawakan beliau, Berantakannya tulisan itu dikarenakan faktor umur.

Teknik lain yang Saya lakukan adalah mencoba memotong beberapa kalimat dari postingan tersebut. Kemudian Saya coba search di Google, Bing dan beberapa mesin pencari seperti Yahoo atau Duck Duck Go.

Alhasil Saya tidak menemukan artikel serupa. (Sampai tulisan ini dibuat) tentunya. Dapat disimpulkan berarti tulisan ini memang benar ditulis langsung oleh Bapak Armen Ahmad.

Namun terlepas dari benar atau tidak tulisan di atas. Ada beberapa hikmah yang dapat di petik. Siswa Pesantren Terkena HIV, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab? Tulisan berikut hanyalah bahan renung dan bukan untuk memojokkan atau mendiskritkan sebuah institusi terutama Pondok Pesantren.

Kenapa Siswa Pesantren Terkena HIV? Jika di runut pokok permasalahannya dan dibaca secara sehat cerita yang di tulis di atas. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pondok pesantrennya.

Meski di dalam kalimat yang tertulis berikut terdapat makna yang justru mengarahkan opini masyarakat ke arah yang tidak baik. Opini tersebut mengarahkan pikiran secara tidak langsung kalau pondok pesantren memang tempat penyebaran dan sudah terkena dampak LGBT dan HIV AIDS.
Setelah diterima di Pesantren (Sebuah lembaga yang amat bergengsi bagi Muslim, yang kelak akan  mengantarkan Kita dan keluarga ke Surga), di Pesantren ini dia mendapatkan sebuah pondok mungil yang ditempati sendiri.
Paragraf di atas secara tidak langsung sebenarnya menyerang pondok pesantren secara tidak langsung. Berdasarkan paragraf sebelum dan sesudahnya. Meski terlihat memuji tapi sebenarnya ada makna jahat tersembunyi di sisipkan. Silahkan Anda baca beberapa kali paragraf tersebut, Maka Anda akan merasakan makna bertolak belakang dari kalimat yang ditulis.

Sampai di sini, Cukup menjelaskan kalau tulisan tersebut (memang) mengandung sesuatu yang sengaja dilakukan untuk mendeskritkan Pondok Pesantren. Namun jika ditelisik secara mendalam yang justru berpengaruh besar adalah oknum. Silahkan coba simak paragraf di bawah ini.
Minggu ke 2 malapetakapun mulai terjadi teman kakak kelas mulai bertandang ke Pondoknya senioritas berlaku di sini, Seperti Proses magang kalau lagi ambil Spesialis. Senior mulai menyampaikan aturan main di Pesantren. 
Anak yang masih lugu inipun ngikut saja, salah satu aturan kata seniornya, mengulum burung senior dan lain lain, karena takut diapun ikut saja. Hampir setiap hari kejadian mengisap burung ini terjadi. Diwaktu lain muncul pula kelompok yang menggosokkan burung ke Pelepasannya ini juga simultan.
Nah dari kalimat yang di susun di dua paragraf ini. Jelas yang bermasalah bukan pondok pesantren namun oknum yang ada di dalam pesantren. Mereka bertindak di bawah sadar tanpa pengawasan. Rasa takut berperan kuat hingga kejadian tersebut terjadi berulang-ulang.

Tersisipnya oknum dengan kepribadian unik dan cenderung menyukai sesama jenis menjadi penyebab awal mula terjadinya sebuah petaka ini. Hal ini tidak menutup kemungkinan juga terjadi di asrama atau jenis pendidikan dengan menggunakan sistem berbasis sama.

Pertanyaanya siapa yang bertanggung jawab jika masalah ini terjadi?

Jawabanya adalah Kita Semua.

Institusi Pendidikan

Dalam beberapa kondisi setiap institusi atau tempat sebuah proses belajar harus memiliki sebuah pengontrol baik itu berupa lembaga atau orang. Orang-orang ini sebaiknya melakukan kontrol dan mendeteksi beberapa kelainan yang di derita oleh siswa atau santrinya.

Ada baiknya sebelum menerima murid baru diadakan seleksi tertutup dan privasi tentang kencenderungan sex menyimpang ini. Seleksi ini juga diberlakukan kepada beberapa pengawas atau tenaga pendidik yang ada di institusi yang bersangkutan.

Hal ini secara garis besar dapat mengurangi terkontaminasinya murid lain dengan kebiasaan sex menyimpang ini. Dalam kesehatan gay tidak menular hanya saja beberapa kelakuan yang di dapatkan oleh orang tidak gay akan meninggalkan trauma psikis.

Trauma psikis inilah yang menjadi awal mereka mengatakan bahwa Gay atau penyuka sesama jenis ini menular. Padahal secara psikologi dan kesehatan, gay menular itu tidaklah benar.

Orangtua

Tips selanjutnya yang bertanggung jawab adalah orangtua, Ada baiknya Anda melakukan pengamatan yang mendalam kepada anak Anda. Apakah Anak kesayangan Anda memiliki kecenderungan unik sex menyimpang atau tidak.

Jika dirasa Anak Anda sedikit memiliki kecendrungan penyujka sesama jenis, Biasanya terlihat dari perilaku dan pergaulan. Ada baiknya Anda tidak memasukkan anak Anda ke dalam sekolah berbasis home stay atau asrama.

Namun seperti pisau bermata dua, Hidup di asrama juga baik bagi Anak yang memiliki kecenderungan aneh.Hidup asrama biasanya akan membuat anak Anda yang sedikit feminim menjadi lebih bertanggung jawab. Namun dalam beberapa kasus hal ini sangat kecil.

Kesimpulan

Nah itulah sedikit opini Saya tentang viralnya status Armen Ahmad dengan judul Siswa Pesantren Terkena HIV, Siapa yang Harus bertanggung Jawab? jawaban yang tepat adalah Kita semua. Kita semua harus aktif melakukan pengawasan, kontrol dan edukasi tepat kepada mereka dengan perilaku sex menyimpang.

Penutup

Semoga status dari Armen Ahmad dapat diambil hikmahnya, Jangan ada caci maki dan menutup mata akan kasus yang sebenarnya sangat banyak beredar di antara Kita. Semakin Kita mencaci, menghina maka semakin tidak Kita menemukan solusi yang tepat dari masalah ini. Mari ikut andil dan perhatikan lingkungan terutama keluarga dan anak kesayangan Kita.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar